Judul : Penerapan Metode Pembelajaran Jigsaw Pada Pelajaran
Biologi Untuk Meningkatkan Motivasi Intrinsik Belajar Siswa
SMP Sekolah X
A. LATAR BELAKANG
Dewasa ini, dunia pendidikan dituntut untuk lebih maju dari sebelumnya. Untuk itu guru dituntut pula untuk bekerja ekstra guna memajukan dunia pendidikan. Guru tidak hanya dituntut mengenai kedisiplinan dalam hal mengajar, tapi juga dituntut untuk menciptakan metode pembelajaran yang jauh lebih bermutu. Di mana pendidikan yang dilakukan harus berpusat juga pada siswa, bukan hanya pada guru saja. Oleh karena itu guru harus lebih menyusun dengan baik rencana dari kegiatan pembelajaran yang akan dijalankan.
Kegiatan pembelajaran yang melahirkan interaksi unsur-unsur manusiawi adalah sebagai suatu motivasi dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Belajar merupakan kegiatan aktif siswa dalam membangun makna dan pemahaman. Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utamanya mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik dalam jalur formal. Guru dalam menjalankan fungsinya diantaranya berkewajiban menciptakan suasana pendidikan yang bermakna menyenangkan, kreatif, dinamis, dialogis, dan memberikan motivasi kepada siswa dalam membangun gagasan, prakarsa, dan tanggung jawab siswa untuk belajar.
Banyaknya definisi motivasi menurut beberapa pakar ternyata memiliki ciri dan kesamaan satu sama lain. Seperti yang diungkapkan oleh Sardiman bahwa ”motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif” (2004, hal. 73). Motivasi ternyata menjadi aktif dalam diri seseorang ketika kebutuhan seseorang dalam mencapai tujuan tertentu mulai dirasakan mendesak. Hal inilah yang seharusnya menjadi perhatian setiap guru untuk mulai menumbuhkan motivasi dalam diri siswa. Motivasi yang dimaksudkan disini adalah motivasi intrinsik dalam diri siswa. Di mana siswa memiliki motivasi yang berasal dari dalam diri mereka sendiri untuk belajar dengan lebih giat lagi.
Kegiatan belajar dan mengajar sangat berkaitan erat dengan motivasi belajar siswa. Di mana kegiatan belajar dan mengajar akan dapat mencapai tujuan yang diinginkan jika siswa memiliki motivasi belajar. Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa guru memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan atau meningkatkan motivasi belajar siswa. Namun pada kenyaatannya tidaklah demikian. Banyak guru yang kurang bahkan tidak berusaha untuk meningkatkan motivasi belajar siswanya. Sehingga tujuan dari proses pembelajaran yang dijalankan tidak tercapai.
Berdasarkan beberapa hal di atas, penulis melakukan sebuah Peneletian Tindakan Kelas guna meningkatkan motivasi belajar siswa. Dalam hal ini motivasi belajar siswa yang ingin ditingkatkan adalah motivasi intrinsik. Adapun cara yang dipilih penulis dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah dengan menerapkan metode pembelajaran Jigsaw. Alasan penulis menggunakan metode pembelajaran jigsaw adalah dengan metode ini siswa diajak untuk lebih bertanggung jawab atas setiap materi pembelajaran yang dipercayakan kepada mereka dalam pelajaran Biologi. Bukan hanya bertanggung jawab terhadap diri mereka sendiri, tetapi juga bertanggung jawab terhadap siswa lainnya. Hal ini dikarenakan setiap siswa akan bertugas untuk membagikan materi pembelajaran kepada siswa lainnya. Sehingga melalui penerapan metode pembelajaran ini, motivasi intrinsik belajar siswa akan meningkat.
B. RUMUSAN MASALAH
Adapun beberapa permasalahan yang menjadi fokus utama penulis dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah sebagai berikut:
1. Apakah penerapan metode pembelajaran Jigsaw dapat meningkatkan motivasi intrinsik belajar siswa pada pelajaran Biologi?
2. Apakah penerapan metode pembelajaran Jigsaw dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa pada pelajaran Biologi?
C. TUJUAN PENELITIAN
Adapun tujuan yang ingin dicapai penulis berdasarkan rumusan masalah yang telah disebutkan di atas adalah sebagai berikut:
1. penerapan metode pembelajaran Jigsaw dapat meningkatkan motivasi intrinsik belajar siswa pada pelajaran Biologi
2. penerapan metode pembelajaran Jigsaw dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa pada pelajaran Biologi
D. MANFAAT PENELITIAN
Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan oleh penulis diharapkan dapat memberikan manfaat yang besar baik bagi sekolah, guru, maupun siswa. Adapun manfaat yang diharapkan adalah sebagai berikut:
a. Sekolah :
1. Dapat menerapkan metode pembelajaran Jigsaw pada pelajaran Biologi untuk meningkatkan motivasi intrinsik belajar siswa.
2. Hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan di sekolah setempat.
b. Guru :
1. Dapat lebih mengembangkan pelajaran dengan lebih kreatif dan semangat.
2. Dapat menerapkan penggunaan metode pembelajaran Jigsaw dalam proses belajar dan mengajar pada mata pelajaran Biologi.
c. Siswa :
1. Dapat menjadi lebih kreatif dalam menggunakan kemampuan atau talenta yang dimiliki.
2. Dapat dengan mudah mengerti konsep pelajaran Biologi.
E. KAJIAN TEORI
1. Metode Pembelajaran Jigsaw
Metode Jigsaw ini dikembangkan oleh Elliot Aronson dan kawan-kawannya dari Universitas Texas dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan kawan-kawan.
Menurut Arends, metode pembelajaran jigsaw merupakan salah satu metode pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok (edipurwantoblog). Di mana materi pelajaran disajikan dalam bentuk teks dan setiap siswa bertanggung jawab atas penugasa bagian materi belajar dan mampu mengajarkan bagian materi tersebut kepada anggota dari kelompok lain. Dalam metode pembelajaran ini siswa diberikan kesempatan untuk berkolaborasi dengan siswa lain dalam bentuk diskusi kelompok guna memecahkan suatu permasalahan akan materi yang dibahas atau dipelajari.
Metode pembelajaran Jigsaw merupakan salah satu metode pembelajaran dimana dalam metode ini suatu bidang ilmu pengetahuan dipecah-pecah menjadi beberapa bagian, dibahas lalu pecahan-pecahan tersebut disatukan kembali dalam suatu diskusi kelompok. Metode pembelajaran ini membuat siswa menjadi lebih aktif dengan tujuan untuk memotivasi siswa dalam melakukan pembelajaran. Metode ini berpusat kepada siswa. Hal ini dikarenakan setiap siswa akan menjadi ahli dari setiap materi yang diberikan kepada mereka, kemudian setiap siswa akan menjelaskan materi yang diperolehnya kepada siswa yang lain. Dalam metode pembelajaran ini, setiap siswa akan mengadakan diskusi dengan siswa lain mengenai materi yang telah dikuasai mereka masing-masing.
Menurut Sumarwoto, diskusi dengan menggunakan metode pembelajaran jigsaw merupakan strategi belajar kelompok yang mengajarkan keberanian siswa dalam menyajikan materi pelajaran di hadapan siswa lain. Di mana siswa dapat menyajikan materi dalam bentuk tulisan yang akan dipresentasikan. Selanjutnya dilakukan tanya jawab dengan materi yang sama, namun diterapkan untuk kasus yang berbeda. Strategi tersebut digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, sehingga prestasi siswa dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotor akan meningkat. (indopos).
Adapun langkah-langkah yang digunakan dalam metode pembelajan Jigsaw ini adalah sebagai berikut (www.jigsaw.org):
a. Siswa dibagi ke dalam kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari 5-6 orang siswa. Setiap anggota kelompok harus berbeda jenis kelaminnya, suku, ras, dan kemampuannya.
b. Tentukan satu orang siswa dari setiap kelompok untuk menjadi pemimpin kelompok. Di mana siswa yang menjadi pemimpin dalam setiap kelompok harus lebih dewasa dari siswa lain dalam kelompok tersebut.
c. Bagilah materi pelajaran ke dalam 5-6 bagian.
d. Setiap siswa harus mempelajari 1 bagian dari materi tersebut, dan pastikan bahwa setiap siswa harus bertanggung jawab dengan materi yang diterimanya.
e. Berikan kesempatan kepada siswa untuk membaca dan mempelajari materi yang diterima. Di mana mereka tidak perlu untuk menghafalkannya, tapi memahami materi tersebut.
f. Kemudian setiap siswa digabungkan dengan siswa lain yang mendapatkan materi sama untuk berdiskusi mengenai materi yang mereka pelajari.
g. Selanjutnya setiap siswa dari bagian materi yang berbeda bergabung pada kelompok semula, lalu masing-masing siswa membagikan bagian materi yang dikuasainya kepada siswa lain dalam kelompok tersebut.
h. Masing-masing siswa dalam setiap kelompok akan berdiskusi mengenai keseluruhan materi pelajaran yang diterima oleh masing-masing siswa. Guru akan membantu untuk memecahkan masalah jika diperlukan.
i. Akhir dari pembelajaran, guru akan memberikan tes kepada siswa mengenai materi pelajaran yang mereka pelajari. Tes yang diberikan bisa dalam bentuk kuis, games, tes essay, dll.
Metode pembelajaran Jigsaw ini membuat siswa yang kurang aktif dalam kelas akan menjadi aktif. Dengan demikian motivasi belajar siswa akan meningkat. Selain itu dengan metode pembelajaran ini guru akan menjadi sangat terbantu dalam menjalankan proses pembelajaran, dan proses pembelajaran berpusat pada siswa bukan pada guru.
2. Konsep Motivasi Belajar (Motivasi Belajar Intrinsik)
Motivasi berpangkal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada di dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Motif juga dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan). Adapun menurut Mc. Donald, motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya feeling dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari pengertian yang dikemukakan oleh Mc. Donald ini mengandung tiga elemen penting, yakni motivasi itu mengawali terjadinya perubahan energy, ditandai dengan adanya feeling, dan dirangsang karena adanya tujuan (Sardiman, 2004, hal. 73-74).
Dengan adanya motivasi, siswa diharapkan dapat lebih mudah untuk memahami materi pelajaran, sehingga siswa dapat dengan mudah pula untuk mengembangkan keahlian atau keterampilan yang mereka miliki. Hal ini dikarenakan motivasi merupakan suatu penggerak yang berasal dari dalam diri siswa, terutama dalam hal belajar. Oleh karena itu, guru harus berusaha untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, yang dalam hal ini motivasi yang dimaksud adalah motivasi intrinsik.
Menurut Morgan seperti yang diungkapkan oleh Fitri dalam sistusnya mengatakan bahwa ”motivasi bertalian dengan tiga hal yang sekaligus merupakan aspek-aspek dari motivasi. Ketiga hal tersebut adalah: keadaan yang mendorong tinglah laku, tingkah laku yang di dorong oleh keadaan tersebut, dan tujuan dari pada tingkah laku tersebut” (duniapsikologi). Berdasarkan apa yang dikatakan oleh Morgan, ternyata motivasi juga sangat berhubungan erat dengan keadaan atau kondisi seseorang.
Guru diharapkan merupakan orang yang karena profesinya sanggup menimbulkan dan mengembangkan motivasi untuk kepentingan proses aspek-aspek pembelajaran di dalam kelas yang keberadaan siswanya berbeda-beda secara individual. Perbedaan ini yang dimaksudkan misalnya perbedaan minat, bakat, kebutuhan, kemampuan, latar belakang sosial dan konsep-konsep yang dipelajari. Dengan motivasi dari guru merupakan faktor yang berarti dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Pada dasarnya ada dua pembangkit motivasi belajar yang efektif adalah keingintahuan dan keyakinan dalam kemampuan diri. Setiap siswa memiliki rasa ingin tahu, maka guru perlu memotivasi dengan pertanyaan diluar kebiasaan atau tugas yang menantang disertai penguatan bahwa siswa mampu untuk melakukannya. Dengan demikian salah satu upaya guru yaitu memberikan motivasi kepada siswa dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan dari pembelajaran yang dilakukan.
Menurut Michel J Jucius seperti yang dituliskan Arief Achmad dalam situsnya menyebutkan bahwa ”motivasi sebagai kegiatan memberikan dorongan kepada seseorang atau diri sendiri untuk mengambil suatu tindakan yang dikehendaki” (re-searchengines). Namun pada intinya bahwa motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar sehingga diharapkan tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Dalam kegiatan belajar, motivasi sangat diperlukan sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar. Motivasi pada umumnya terbagi atas dua jenis, yaitu: motivasi intrinsik (berasal dari dalam individu sendiri tanpa adanya paksaan dorongan orang lain, tetapi atas kemauan sendiri) dan motivasi ekstrinsik (timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian siswa mau melakukan sesuatu atau belajar).
3. Hubungan Metode Pembelajaran Jigsaw dengan Motivasi Belajar
Setelah melihat pengertian metode pembelajaran Jigsaw dan juga motivasi belajar intrinsik, maka dapat dilihat bahwa kedua hal ini memiliki hubungan yang sangat erat dalam meningkatkan dan mengembangkan minat siswa dalam pembelajaran. Dengan demikian siswa dapat dengan lebih mudah untuk menggunakan dan lebih mengembangkan lagi kemampuan yang mereka miliki. Selain itu guru juga dapat membantu siswa untuk dapat menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab akan sesuatu hal yang dipercayakan kepada mereka.
F. METODE PENELITIAN
1. Subyek dan Lokasi Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan dilakukan di salah satu SMP di Jakarta pada siswa kelas VIII.
2. Tahapan dan Alur Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas ini menggunakan dua siklus, yaitu siklus pertama dengan tahapan sebagai berikut:
![]()
![]()
Perencanaan Tindakan Pelaksanaan Tindakan Pengamatan Refleksi 1
Siklus yang kedua adalah sebagai berikut:
![]()
![]()
Perencanaan Tindakan Pelaksanaan Tindakan Pengamatan Refleksi 2
Target diletakkan di antara siklus kedua. Di mana target dari Penelitian Tindakan Kelas ini adalah meningkatkan motivasi belajar intrinsik siswa.

Adapun penjelasan setiap tahapan siklus adalah sebagai sebagai berikut:
Siklus I
- Perencanaan Tindakan
- Identifikasi masalah dan penetapan alternatif pemecahan masalah.
- Merencanakan pembelajaran yang akan diterapkan dalam proses belajar mengajar.
- Menetapkan standar kompetensi dan kompetensi dasar.
- Memilih bahan pelajaran yang sesuai
- Menentukan skenario pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran Jigsaw.
- Mempersiapkan sumber, bahan, dan alat bantu yang dibutuhkan.
- Menyusun lembar kerja siswa.
- Mengembangkan format evaluasi.
- Mengembangkan format observasi pembelajaran
- Pelaksanaan Tindakan
- Menerapkan tindakan yang mengacu pada skenario pembelajaran.
- Siswa membaca materi yang terdapat pada buku sumber.
- Setiap siswa berdiskusi dengan siswa lain yang mendapatkan materi yang sama.
- Setiap siswa menjelaskan materi yang dipelajari kepada siswa lain dalam anggota kelompok awal.
- Siswa dalam kelompok awal berdiskusi membahas masalah yang ada.
- Setiap siswa mengerjakan lembar kerja siswa (LKS)
- Pengamatan
- Melakukan pengamatan dengan menggunakan format pengamatan yang sudah disiapkan, yaitu dengan alat perekam, catatan anekdot untuk mengumpulkan data.
- Menilai hasil tindakan dengan menggunakan format lembar kerja siswa (LKS).
- Refleksi
- Melakukan evaluasi tindakan yang telah dilakukan meliputi evaluasi mutu, jumlah dan waktu dari setiap macam tindakan.
- Melakukan pertemuan untuk membahas hasil evaluasi tentang skenario pembelajaran dan lembar kerja siswa.
- Memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai hasil evaluasi, untuk digunakan pada siklus berikutnya.
Apabila indikator tidak mencapai 80%, maka diadakan siklus kedua. Adapun indikator dalam Penelitian Tindakan Kelas kali ini adalah sebagai berikut:
- Siswa mempunyai motivasi yang baik dalam proses pembelajaran.
- Siswa dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik dan tekun.
- Siswa selalu mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru.
- Siswa selalu aktif dalam proses pembelajaran.
- Siswa memahami materi yang pelajari selama proses pembelajaran.
Siklus II
- Perencanaan Tindakan
- Identifikasi masalah yang muncul pada siklus I dan belum teratasi dan penetapan altrnatif pemecahan masalah.
- Menentukan indicator pencapaian hasil belajar.
- Pengembangan program tindakan II.
- Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan program tindakan II yang mengacu pada identifikasi masalah yang muncul pada siklus I, sesuai dengan alternatif pemecahan masalah yang sudah ditentukan, antara lain:
- Guru melakukan appersepsi.
- Siswa yang diperkenalkan dengan materi yang akan dibahas dan tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran.
- Siswa mengamati gambar-gambar yang sesuai dengan materi.
- Siswa bertanya jawab tentang gambar.
- Siswa menceritakan kembali gambar-gambar tersebut.
- Siswa mengumpulkan bacaan dari berbagai sumber, melakukan diskusi kelompok belajar, memahami materi dan menulis hasil diskusi untuk dilaporkan.
- Presentasi hasil diskusi.
- Siswa menyelesaikan tugas pada lembar kerja siswa.
- Pengamatan
- Melakukan pengamatan sesuai dengan format yang sudah disiapkan dan mencatat semua hal-hal yang diperlukan yang terjadi selama pelaksanaan tindakan berlangsung.
- Menilai hasil tindakan sesuai dengan format yang sudah dikembangkan.
- Refleksi
- Melakukan evaluasi terhadap tindakan pada siklus II berdasarkan data yang terkumpul.
- Membahas hasil evaluasi tentang skenario pembelajaran pada siklus II.
- Evaluasi tindakan II.
Indikator keberhasilan yang dicapai pada siklus ini diharapkan mengalami kemajuan 20% dari siklus I.
3. Instrumen dan Teknik Pengumpulan Data
Berdasarkan jumlah rumusan masalah yang ada, maka instrumen yang digunakan dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah berbentuk soal tes, pengamatan, catatan lapangan. Data yang terkumpul dianalisis untuk mengukur indikator keberhasilan yang sudah dirumuskan. Selain itu teknik pengumpulan data pada Penelitian Tindakan Kelas ini adalah dengan menggunakan alat pengumpul data berupa : catatan guru, catatan siswa, rekaman tape recorder, wawancara, angket, dan berbagi dokumen yang terkait dengan siswa.
4. Teknik Pengolahan Data
Adapun teknik pengolahan data yang digunakan dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah data yang diambil merupakan data kuantitatif dari hasil tes dan nilai tugas. Selain itu data kualitatif yang menggambarkan keaktifan siswa, antusias siswa, partisipasi dan kerjasama dalam diskusi, kemampuan atau keberanian siswa dalam melaporkan hasil diskusi.
REFERENSI :
Diambil pada tanggal 15 Desember 2008 dari http://www.jigsaw.org
Diambil pada tanggal 15 Desember 2008 dari http://duniapsikologi.dagdigdug.com/2008/11/19/pengertian-motivasi/
Diambil pada tanggal 15 Desember 2008 dari www.jigsaw.org/pembelajaran-kooperatif-tipe-jigsaw_16.html
Diambil pada tanggal 17 Desember 2008 dari http://www.jigsaw.org/indopos.htm
Diambil pada tanggal 17 Desember 2008 dari http://re-searchengines.com/1007arief4.html
Sardiman, A.M. (2004). Interaksi dan motivasi belajar mengajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
