January 22, 2009

Penelitian Tindakan Kelas

Judul : Penerapan Metode Pembelajaran Jigsaw Pada Pelajaran

Biologi Untuk Meningkatkan Motivasi Intrinsik Belajar Siswa

SMP Sekolah X

A. LATAR BELAKANG

Dewasa ini, dunia pendidikan dituntut untuk lebih maju dari sebelumnya. Untuk itu guru dituntut pula untuk bekerja ekstra guna memajukan dunia pendidikan. Guru tidak hanya dituntut mengenai kedisiplinan dalam hal mengajar, tapi juga dituntut untuk menciptakan metode pembelajaran yang jauh lebih bermutu. Di mana pendidikan yang dilakukan harus berpusat juga pada siswa, bukan hanya pada guru saja. Oleh karena itu guru harus lebih menyusun dengan baik rencana dari kegiatan pembelajaran yang akan dijalankan.

Kegiatan pembelajaran yang melahirkan interaksi unsur-unsur manusiawi adalah sebagai suatu motivasi dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Belajar merupakan kegiatan aktif siswa dalam membangun makna dan pemahaman. Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utamanya mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik dalam jalur formal. Guru dalam menjalankan fungsinya diantaranya berkewajiban menciptakan suasana pendidikan yang bermakna menyenangkan, kreatif, dinamis, dialogis, dan memberikan motivasi kepada siswa dalam membangun gagasan, prakarsa, dan tanggung jawab siswa untuk belajar.

Banyaknya definisi motivasi menurut beberapa pakar ternyata memiliki ciri dan kesamaan satu sama lain. Seperti yang diungkapkan oleh Sardiman bahwa ”motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif” (2004, hal. 73). Motivasi ternyata menjadi aktif dalam diri seseorang ketika kebutuhan seseorang dalam mencapai tujuan tertentu mulai dirasakan mendesak. Hal inilah yang seharusnya menjadi perhatian setiap guru untuk mulai menumbuhkan motivasi dalam diri siswa. Motivasi yang dimaksudkan disini adalah motivasi intrinsik dalam diri siswa. Di mana siswa memiliki motivasi yang berasal dari dalam diri mereka sendiri untuk belajar dengan lebih giat lagi.

Kegiatan belajar dan mengajar sangat berkaitan erat dengan motivasi belajar siswa. Di mana kegiatan belajar dan mengajar akan dapat mencapai tujuan yang diinginkan jika siswa memiliki motivasi belajar. Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa guru memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan atau meningkatkan motivasi belajar siswa. Namun pada kenyaatannya tidaklah demikian. Banyak guru yang kurang bahkan tidak berusaha untuk meningkatkan motivasi belajar siswanya. Sehingga tujuan dari proses pembelajaran yang dijalankan tidak tercapai.

Berdasarkan beberapa hal di atas, penulis melakukan sebuah Peneletian Tindakan Kelas guna meningkatkan motivasi belajar siswa. Dalam hal ini motivasi belajar siswa yang ingin ditingkatkan adalah motivasi intrinsik. Adapun cara yang dipilih penulis dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah dengan menerapkan metode pembelajaran Jigsaw. Alasan penulis menggunakan metode pembelajaran jigsaw adalah dengan metode ini siswa diajak untuk lebih bertanggung jawab atas setiap materi pembelajaran yang dipercayakan kepada mereka dalam pelajaran Biologi. Bukan hanya bertanggung jawab terhadap diri mereka sendiri, tetapi juga bertanggung jawab terhadap siswa lainnya. Hal ini dikarenakan setiap siswa akan bertugas untuk membagikan materi pembelajaran kepada siswa lainnya. Sehingga melalui penerapan metode pembelajaran ini, motivasi intrinsik belajar siswa akan meningkat.

B. RUMUSAN MASALAH

Adapun beberapa permasalahan yang menjadi fokus utama penulis dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah sebagai berikut:

1. Apakah penerapan metode pembelajaran Jigsaw dapat meningkatkan motivasi intrinsik belajar siswa pada pelajaran Biologi?

2. Apakah penerapan metode pembelajaran Jigsaw dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa pada pelajaran Biologi?

C. TUJUAN PENELITIAN

Adapun tujuan yang ingin dicapai penulis berdasarkan rumusan masalah yang telah disebutkan di atas adalah sebagai berikut:

1. penerapan metode pembelajaran Jigsaw dapat meningkatkan motivasi intrinsik belajar siswa pada pelajaran Biologi

2. penerapan metode pembelajaran Jigsaw dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa pada pelajaran Biologi

D. MANFAAT PENELITIAN

Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan oleh penulis diharapkan dapat memberikan manfaat yang besar baik bagi sekolah, guru, maupun siswa. Adapun manfaat yang diharapkan adalah sebagai berikut:

a. Sekolah :

1. Dapat menerapkan metode pembelajaran Jigsaw pada pelajaran Biologi untuk meningkatkan motivasi intrinsik belajar siswa.

2. Hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan di sekolah setempat.

b. Guru :

1. Dapat lebih mengembangkan pelajaran dengan lebih kreatif dan semangat.

2. Dapat menerapkan penggunaan metode pembelajaran Jigsaw dalam proses belajar dan mengajar pada mata pelajaran Biologi.

c. Siswa :

1. Dapat menjadi lebih kreatif dalam menggunakan kemampuan atau talenta yang dimiliki.

2. Dapat dengan mudah mengerti konsep pelajaran Biologi.

E. KAJIAN TEORI

1. Metode Pembelajaran Jigsaw

Metode Jigsaw ini dikembangkan oleh Elliot Aronson dan kawan-kawannya dari Universitas Texas dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan kawan-kawan.

Menurut Arends, metode pembelajaran jigsaw merupakan salah satu metode pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok (edipurwantoblog). Di mana materi pelajaran disajikan dalam bentuk teks dan setiap siswa bertanggung jawab atas penugasa bagian materi belajar dan mampu mengajarkan bagian materi tersebut kepada anggota dari kelompok lain. Dalam metode pembelajaran ini siswa diberikan kesempatan untuk berkolaborasi dengan siswa lain dalam bentuk diskusi kelompok guna memecahkan suatu permasalahan akan materi yang dibahas atau dipelajari.

Metode pembelajaran Jigsaw merupakan salah satu metode pembelajaran dimana dalam metode ini suatu bidang ilmu pengetahuan dipecah-pecah menjadi beberapa bagian, dibahas lalu pecahan-pecahan tersebut disatukan kembali dalam suatu diskusi kelompok. Metode pembelajaran ini membuat siswa menjadi lebih aktif dengan tujuan untuk memotivasi siswa dalam melakukan pembelajaran. Metode ini berpusat kepada siswa. Hal ini dikarenakan setiap siswa akan menjadi ahli dari setiap materi yang diberikan kepada mereka, kemudian setiap siswa akan menjelaskan materi yang diperolehnya kepada siswa yang lain. Dalam metode pembelajaran ini, setiap siswa akan mengadakan diskusi dengan siswa lain mengenai materi yang telah dikuasai mereka masing-masing.

Menurut Sumarwoto, diskusi dengan menggunakan metode pembelajaran jigsaw merupakan strategi belajar kelompok yang mengajarkan keberanian siswa dalam menyajikan materi pelajaran di hadapan siswa lain. Di mana siswa dapat menyajikan materi dalam bentuk tulisan yang akan dipresentasikan. Selanjutnya dilakukan tanya jawab dengan materi yang sama, namun diterapkan untuk kasus yang berbeda. Strategi tersebut digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, sehingga prestasi siswa dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotor akan meningkat. (indopos).

Adapun langkah-langkah yang digunakan dalam metode pembelajan Jigsaw ini adalah sebagai berikut (www.jigsaw.org):

a. Siswa dibagi ke dalam kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari 5-6 orang siswa. Setiap anggota kelompok harus berbeda jenis kelaminnya, suku, ras, dan kemampuannya.

b. Tentukan satu orang siswa dari setiap kelompok untuk menjadi pemimpin kelompok. Di mana siswa yang menjadi pemimpin dalam setiap kelompok harus lebih dewasa dari siswa lain dalam kelompok tersebut.

c. Bagilah materi pelajaran ke dalam 5-6 bagian.

d. Setiap siswa harus mempelajari 1 bagian dari materi tersebut, dan pastikan bahwa setiap siswa harus bertanggung jawab dengan materi yang diterimanya.

e. Berikan kesempatan kepada siswa untuk membaca dan mempelajari materi yang diterima. Di mana mereka tidak perlu untuk menghafalkannya, tapi memahami materi tersebut.

f. Kemudian setiap siswa digabungkan dengan siswa lain yang mendapatkan materi sama untuk berdiskusi mengenai materi yang mereka pelajari.

g. Selanjutnya setiap siswa dari bagian materi yang berbeda bergabung pada kelompok semula, lalu masing-masing siswa membagikan bagian materi yang dikuasainya kepada siswa lain dalam kelompok tersebut.

h. Masing-masing siswa dalam setiap kelompok akan berdiskusi mengenai keseluruhan materi pelajaran yang diterima oleh masing-masing siswa. Guru akan membantu untuk memecahkan masalah jika diperlukan.

i. Akhir dari pembelajaran, guru akan memberikan tes kepada siswa mengenai materi pelajaran yang mereka pelajari. Tes yang diberikan bisa dalam bentuk kuis, games, tes essay, dll.

Metode pembelajaran Jigsaw ini membuat siswa yang kurang aktif dalam kelas akan menjadi aktif. Dengan demikian motivasi belajar siswa akan meningkat. Selain itu dengan metode pembelajaran ini guru akan menjadi sangat terbantu dalam menjalankan proses pembelajaran, dan proses pembelajaran berpusat pada siswa bukan pada guru.

2. Konsep Motivasi Belajar (Motivasi Belajar Intrinsik)

Motivasi berpangkal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada di dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Motif juga dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan). Adapun menurut Mc. Donald, motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya feeling dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari pengertian yang dikemukakan oleh Mc. Donald ini mengandung tiga elemen penting, yakni motivasi itu mengawali terjadinya perubahan energy, ditandai dengan adanya feeling, dan dirangsang karena adanya tujuan (Sardiman, 2004, hal. 73-74).

Dengan adanya motivasi, siswa diharapkan dapat lebih mudah untuk memahami materi pelajaran, sehingga siswa dapat dengan mudah pula untuk mengembangkan keahlian atau keterampilan yang mereka miliki. Hal ini dikarenakan motivasi merupakan suatu penggerak yang berasal dari dalam diri siswa, terutama dalam hal belajar. Oleh karena itu, guru harus berusaha untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, yang dalam hal ini motivasi yang dimaksud adalah motivasi intrinsik.

Menurut Morgan seperti yang diungkapkan oleh Fitri dalam sistusnya mengatakan bahwa ”motivasi bertalian dengan tiga hal yang sekaligus merupakan aspek-aspek dari motivasi. Ketiga hal tersebut adalah: keadaan yang mendorong tinglah laku, tingkah laku yang di dorong oleh keadaan tersebut, dan tujuan dari pada tingkah laku tersebut” (duniapsikologi). Berdasarkan apa yang dikatakan oleh Morgan, ternyata motivasi juga sangat berhubungan erat dengan keadaan atau kondisi seseorang.

Guru diharapkan merupakan orang yang karena profesinya sanggup menimbulkan dan mengembangkan motivasi untuk kepentingan proses aspek-aspek pembelajaran di dalam kelas yang keberadaan siswanya berbeda-beda secara individual. Perbedaan ini yang dimaksudkan misalnya perbedaan minat, bakat, kebutuhan, kemampuan, latar belakang sosial dan konsep-konsep yang dipelajari. Dengan motivasi dari guru merupakan faktor yang berarti dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Pada dasarnya ada dua pembangkit motivasi belajar yang efektif adalah keingintahuan dan keyakinan dalam kemampuan diri. Setiap siswa memiliki rasa ingin tahu, maka guru perlu memotivasi dengan pertanyaan diluar kebiasaan atau tugas yang menantang disertai penguatan bahwa siswa mampu untuk melakukannya. Dengan demikian salah satu upaya guru yaitu memberikan motivasi kepada siswa dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan dari pembelajaran yang dilakukan.

Menurut Michel J Jucius seperti yang dituliskan Arief Achmad dalam situsnya menyebutkan bahwa ”motivasi sebagai kegiatan memberikan dorongan kepada seseorang atau diri sendiri untuk mengambil suatu tindakan yang dikehendaki” (re-searchengines). Namun pada intinya bahwa motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar sehingga diharapkan tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Dalam kegiatan belajar, motivasi sangat diperlukan sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar. Motivasi pada umumnya terbagi atas dua jenis, yaitu: motivasi intrinsik (berasal dari dalam individu sendiri tanpa adanya paksaan dorongan orang lain, tetapi atas kemauan sendiri) dan motivasi ekstrinsik (timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian siswa mau melakukan sesuatu atau belajar).

3. Hubungan Metode Pembelajaran Jigsaw dengan Motivasi Belajar

Setelah melihat pengertian metode pembelajaran Jigsaw dan juga motivasi belajar intrinsik, maka dapat dilihat bahwa kedua hal ini memiliki hubungan yang sangat erat dalam meningkatkan dan mengembangkan minat siswa dalam pembelajaran. Dengan demikian siswa dapat dengan lebih mudah untuk menggunakan dan lebih mengembangkan lagi kemampuan yang mereka miliki. Selain itu guru juga dapat membantu siswa untuk dapat menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab akan sesuatu hal yang dipercayakan kepada mereka.

F. METODE PENELITIAN

1. Subyek dan Lokasi Penelitian

Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan dilakukan di salah satu SMP di Jakarta pada siswa kelas VIII.

2. Tahapan dan Alur Penelitian

Penelitian Tindakan Kelas ini menggunakan dua siklus, yaitu siklus pertama dengan tahapan sebagai berikut:

Perencanaan Tindakan Pelaksanaan Tindakan Pengamatan Refleksi 1

Siklus yang kedua adalah sebagai berikut:

Perencanaan Tindakan Pelaksanaan Tindakan Pengamatan Refleksi 2

Target diletakkan di antara siklus kedua. Di mana target dari Penelitian Tindakan Kelas ini adalah meningkatkan motivasi belajar intrinsik siswa.

Adapun penjelasan setiap tahapan siklus adalah sebagai sebagai berikut:

Siklus I

  1. Perencanaan Tindakan
    1. Identifikasi masalah dan penetapan alternatif pemecahan masalah.
    2. Merencanakan pembelajaran yang akan diterapkan dalam proses belajar mengajar.
    3. Menetapkan standar kompetensi dan kompetensi dasar.
    4. Memilih bahan pelajaran yang sesuai
    5. Menentukan skenario pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran Jigsaw.
    6. Mempersiapkan sumber, bahan, dan alat bantu yang dibutuhkan.
    7. Menyusun lembar kerja siswa.
    8. Mengembangkan format evaluasi.
    9. Mengembangkan format observasi pembelajaran
  2. Pelaksanaan Tindakan
    1. Menerapkan tindakan yang mengacu pada skenario pembelajaran.
    2. Siswa membaca materi yang terdapat pada buku sumber.
    3. Setiap siswa berdiskusi dengan siswa lain yang mendapatkan materi yang sama.
    4. Setiap siswa menjelaskan materi yang dipelajari kepada siswa lain dalam anggota kelompok awal.
    5. Siswa dalam kelompok awal berdiskusi membahas masalah yang ada.
    6. Setiap siswa mengerjakan lembar kerja siswa (LKS)
  3. Pengamatan
    1. Melakukan pengamatan dengan menggunakan format pengamatan yang sudah disiapkan, yaitu dengan alat perekam, catatan anekdot untuk mengumpulkan data.
    2. Menilai hasil tindakan dengan menggunakan format lembar kerja siswa (LKS).
  4. Refleksi
    1. Melakukan evaluasi tindakan yang telah dilakukan meliputi evaluasi mutu, jumlah dan waktu dari setiap macam tindakan.
    2. Melakukan pertemuan untuk membahas hasil evaluasi tentang skenario pembelajaran dan lembar kerja siswa.
    3. Memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai hasil evaluasi, untuk digunakan pada siklus berikutnya.

Apabila indikator tidak mencapai 80%, maka diadakan siklus kedua. Adapun indikator dalam Penelitian Tindakan Kelas kali ini adalah sebagai berikut:

  1. Siswa mempunyai motivasi yang baik dalam proses pembelajaran.
  2. Siswa dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik dan tekun.
  3. Siswa selalu mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru.
  4. Siswa selalu aktif dalam proses pembelajaran.
  5. Siswa memahami materi yang pelajari selama proses pembelajaran.

Siklus II

  1. Perencanaan Tindakan
    1. Identifikasi masalah yang muncul pada siklus I dan belum teratasi dan penetapan altrnatif pemecahan masalah.
    2. Menentukan indicator pencapaian hasil belajar.
    3. Pengembangan program tindakan II.
  2. Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan program tindakan II yang mengacu pada identifikasi masalah yang muncul pada siklus I, sesuai dengan alternatif pemecahan masalah yang sudah ditentukan, antara lain:

    1. Guru melakukan appersepsi.
    2. Siswa yang diperkenalkan dengan materi yang akan dibahas dan tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran.
    3. Siswa mengamati gambar-gambar yang sesuai dengan materi.
    4. Siswa bertanya jawab tentang gambar.
    5. Siswa menceritakan kembali gambar-gambar tersebut.
    6. Siswa mengumpulkan bacaan dari berbagai sumber, melakukan diskusi kelompok belajar, memahami materi dan menulis hasil diskusi untuk dilaporkan.
    7. Presentasi hasil diskusi.
    8. Siswa menyelesaikan tugas pada lembar kerja siswa.
  1. Pengamatan
    1. Melakukan pengamatan sesuai dengan format yang sudah disiapkan dan mencatat semua hal-hal yang diperlukan yang terjadi selama pelaksanaan tindakan berlangsung.
    2. Menilai hasil tindakan sesuai dengan format yang sudah dikembangkan.
  2. Refleksi
    1. Melakukan evaluasi terhadap tindakan pada siklus II berdasarkan data yang terkumpul.
    2. Membahas hasil evaluasi tentang skenario pembelajaran pada siklus II.
    3. Evaluasi tindakan II.

Indikator keberhasilan yang dicapai pada siklus ini diharapkan mengalami kemajuan 20% dari siklus I.

3. Instrumen dan Teknik Pengumpulan Data

Berdasarkan jumlah rumusan masalah yang ada, maka instrumen yang digunakan dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah berbentuk soal tes, pengamatan, catatan lapangan. Data yang terkumpul dianalisis untuk mengukur indikator keberhasilan yang sudah dirumuskan. Selain itu teknik pengumpulan data pada Penelitian Tindakan Kelas ini adalah dengan menggunakan alat pengumpul data berupa : catatan guru, catatan siswa, rekaman tape recorder, wawancara, angket, dan berbagi dokumen yang terkait dengan siswa.

4. Teknik Pengolahan Data

Adapun teknik pengolahan data yang digunakan dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah data yang diambil merupakan data kuantitatif dari hasil tes dan nilai tugas. Selain itu data kualitatif yang menggambarkan keaktifan siswa, antusias siswa, partisipasi dan kerjasama dalam diskusi, kemampuan atau keberanian siswa dalam melaporkan hasil diskusi.

REFERENSI :

Diambil pada tanggal 15 Desember 2008 dari http://www.jigsaw.org

Diambil pada tanggal 15 Desember 2008 dari http://duniapsikologi.dagdigdug.com/2008/11/19/pengertian-motivasi/

Diambil pada tanggal 15 Desember 2008 dari www.jigsaw.org/pembelajaran-kooperatif-tipe-jigsaw_16.html

Diambil pada tanggal 17 Desember 2008 dari http://www.jigsaw.org/indopos.htm

Diambil pada tanggal 17 Desember 2008 dari http://re-searchengines.com/1007arief4.html

Sardiman, A.M. (2004). Interaksi dan motivasi belajar mengajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Sex Dalam Berpacaran


Love, sex, and dating merupakan sebuah topik yang selalu hangat dibicarakan oleh kalangan remaja. Hal ini tentu tidak mengherankan mengingat mereka berada pada masa pencarian jati diri dan penuh dengan keingintahuan. Hanya saja, sering kali keingintahuan tersebut membuka peluang terhadap dosa karena mereka tidak mengenal prinsip-prinsip Kristen yang jelas dalam membina sebuah hubungan. Dosa yang dimaksudkan disini adalah dosa seks. Hal ini yang banyak terjadi di kalangan remaja, khususnya remaja Kristen.

Banyak sekali pertanyaan yang selalu hadir dalam benak kita pada saat kita memiliki sebuah hubungan khusus dengan seseorang. Tanpa pengertian yang benar, bukan tidak mungkin anak-anak Tuhan sekalipun akhirnya jatuh ke dalam dosa seks ketika berpacaran. Sehingga akhirnya membawa mereka ke dalam sebuah pernikahan yang dipaksakan. Hal ini pula yang terjadi dengan salah satu sahabat baik saya (sebut saja Winnie) ketika menjalin hubungan khusus dengan seorang pria (Fery).

Hubungan yang awalnya berjalan dengan baik dan tanpa cela sedikit pun, akhirnya berubah menjadi sebuah petaka bagi keduanya, bahkan kedua keluarga mereka. Pada dasarnya banyak faktor yang dapat menjadi penyebab sampai seseorang bisa jatuh ke dalam dosa ketika sedang menjalin hubungan khusus dengan seseorang. Hal ini bisa dikarenakan faktor keluarga, pergaulan, pendidikan, atau faktor-faktor lainnya.

Gaya pacaran remaja saat ini sudah sangat jauh berbeda dengan masa dulu. Kalau remaja dulu berpacaran saja malu, apalagi harus ketahuan orang lain. Sedangkan remaja saat ini menganggap bahwa hubungan seks pada masa pacaran adalah suatu hal yang biasa dan wajar untuk dilakukan. Namun kita tidak bisa hanya menyalahkan remajanya saja, karena seperti yang telah saya sebutkan di atas bahwa banyak faktor yang bisa menjadi penyebabnya. Selain itu saya juga menyebutkan di atas bahwa remaja cenderung memiliki rasa ingin tahu yang besar termasuk pada informasi mengenai seksualitas, namun sebagian orang tua dan lingkungan masih menganggap tabu untuk membicarakan masalah ini. Sehingga remaja cenderung mencari informasi tanpa ada yang mengarahkan atau membimbing.

Berdasarkan beberapa hal di atas dan juga kisah yang dialami oleh sahabat baik saya (Winnie), maka saya mengangkat topik tersebut untuk dibahas dalam makalah ini. Winnie berlatarbelakang dari keluarga sederhana dengan memiliki seorang adik perempuan. Kesibukan ayah dan ibunya yang membuat dia dan adiknya memiliki waktu yang kurang banyak untuk berkumpul bersama dengan kedua orangtuanya. Hal ini yang membuat Winnie dan adiknya kurang mendapatkan figur seorang ayah ataupun laki-laki dewasa.

Seiring dengan berjalannya waktu, Winnie berkenalan dengan Fery dan mereka menjalin sebuah hubungan khusus atau berpacaran. Awalnya hubungan mereka pada dua tahun pertama berjalan dengan baik dan mulus. Namun pada pertengahan tahun kedua, hubungan mereka berubah menjadi sebuah petaka bukan hanya bagi mereka, tetapi juga bagi kedua keluarga mereka, khususnya orangtua mereka. Winnie hamil 4 bulan dan sedang mengandung anak Fery. Sebagai seorang sahabat, saya merasa kecewa, marah, dan bersalah atas apa yang menimpa Winnie. Saya sendiri tidak menyangka hal ini bakal terjadi pada sahabat saya, tetapi saya tidak menyalahkan ini sepenuhnya kepada Winnie. Saya tahu bahwa pada saat itu dia sangat terpukul dengan musibah tersebut. Dukungan terus saya berikan kepadanya.

Apa yang terjadi pada sahabat saya menjadi suatu pelajaran bagi saya dan juga orang-orang yang ada disekitar Winnie. Keluguan dan sikap pemalu yang dimilikinya tidak menjamin bahwa kehidupannya dapat berjalan mulus. Banyak sekali faktor disekitarnya yang dapat menjadi penyebab musibah yang menimpa Winnie, termasuk faktor keluarga dan lingkungan pergaulan. Oleh karena itu, dalam makalah ini saya akan memaparkan bagaimana faktor keluarga dan lingkungan pergaulan akan mempengaruhi kehidupan seseorang, khususnya remaja.

Pacaran adalah suatu kata yang sudah tidak asing lagi kita dengar dikalangan remaja. Menurut saya pacaran dapat diidentifikasikan sebagai suatu tali kasih sayang yang terjalin atas dasar saling menyukai atau adanya rasa saling tertarik antara lawan jenis. Saling tertarik yang saya maksudkan disini adalah dalam banyak hal, antara lain tertarik karena kecantikan, kebaikan, atau karena nafsu belaka. Namun ada juga yang tertarik karena menyukai seseorang dengan perasaan yang berasal dari hati.

Pada dasarnya pacaran biasanya mulai muncul pada masa awal pubertas. Perubahan hormon dan fisik membuat kita mulai tertarik pada lawan jenis. Dalam pacaran biasanya dua orang berlawanan jenis melakukan proses saling menyayangi satu sama lain, dan itu merupakan proses mengenal dan memahami pasangannya dan belajar untuk membina hubungan dengan lawan jenisnya sebagai persiapan sebelum menikah. Di mana hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya ketidakcocokan dan permasalahan pada saat sudah menikah nantinya. Setiap orang dalam berpacaran akan berusaha mengenal kebiasaan, karakter atau sifat, serta reaksi-reaksi terhadap berbagai masalah maupun peristiwa yang akan hadir selama proses pacaran tersebut.

Jika masa pacaran dimanfaatkan dengan sebaik mungkin maka akan dapat menjadi ajang untuk melihat masalah yang potensial yang akan muncul dari perbedaan diri kita dan pasangan yang berbeda latar belakang kehidupan. Sehingga nantinya kita dan pasangan akan siap untuk mengantisipasi jika dalam menjalani proses pacaran timbul permasalahan yang tidak dikehendaki. Permasalahan yang sering timbul selama menjalani proses pacaran terkadang disebabkan oleh keegoisan atau ketidak dewasaan.

Kedewasaan dalam berpacaran pada dasarnya dapat dilihat dari kesiapan setiap pasangan untuk bertanggung jawab. Hal ini dapat dilihat dari kemampuan untuk dapat menyesuaikan diri dengan berbagai tuntutan peran, membagi waktu, dan tanggung jawab. Kesiapan untuk berbagi dengan orang lain, menghadapi permasalahan pacaran, dan tetap dapat mengendalikan diri dan memenuhi nilai-nilai yang dianut dalam berhubungan dengan lawan jenis. Jika semuanya dapat dipenuhi, maka proses pacaran akan berjalan dengan baik.

Berbeda dengan keadaan yang sering terjadi dalam sebuah proses pacaran. Pacaran sering diidentikkan dengan seks. Kebanyakan orang menganggap bahwa seks merupakan hal biasa dan normal jika dilakukan dalam berpacaran. Seks merupakan hal yang menyenangkan dan indah. Selain itu banyak orang yang merasa hebat ketika mereka telah melakukan hubungan seks pada saat proses pacaran. Oleh karena itu banyak orang yang beranggapan bahwa hubungan seks dalam berpacaran atau hubungan seks sebelum menikah tidak salah jika terjadi pada remaja. Hal ini dikarenakan tugas perkembangan remaja itu sendiri salah satunya adalah membina hubungan heteroseksual.

Hubungan seks dalam berpacaran merupakan pilihan setiap individu. Apakah mau melakukan atau tidak, dan yang menjadi permasalahan saat ini adalah apakah remaja yang memilih melakukan perilaku seksual sebelum nikah itu dapat melakukannya dengan bertanggung jawab dan juga sehat?

Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya bahwa banyak faktor yang mempengaruhi perilaku seksual, termasuk perkembangan teknologi yang menyediakan berbagai informasi dan salah satunya mengenai seksualitas. Informasi-informasi tersebut dapat dengan mudah diakses walaupun kadang tidak tepat. Informasi yang tidak tepat tersebut bisa berupa video-video dan cerita erotis yang dapat menimbulkan hasrat seksual yang tinggi, sehingga remaja membutuhkan penyaluran. Penyaluran itu tidak dapat dilakukan remaja dengan benar karena mereka belum menikah, tetapi pernikahan pada remaja juga belum bisa dilakukan karena banyak syarat untuk menikah. Sehingga jalan satu-satunya yang dapat ditempuh oleh remaja adalah dengan menyalurkan kepada pasangannya, dalam hal ini adalah pacar mereka.

Pola asuh orangtua juga menjadi salah penyebab anak melakukan hubungan seks sebelum menikah. Seperti yang dikatakan oleh Rita Damayanti bahwa “pola asuh yang positif akan membentuk anak-anak menjadi lebih tangguh.” (untuksemua). Anak akan mampu menolak apa yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip pribadi mereka, jika orangtua menanamkan prinsip-prinsip tersebut. Hal ini yang terjadi pada sahabat saya tersebut (Winnie). Kebebasan tanpa pengontrolan yang diberikan oleh orangtuanya karena kurangnya waktu bersama dengan orangtua yang disebabkan kesibukan orangtua, sehingga pola asuh yang diberikan orangtua tidak didapatkannya dengan baik. Pola asuh yang dianut oleh orangtua Winnie adalah pola asuh permisif. Di mana orangtua memberikan kebebasan kepadanya untuk melakukan apa saja untuk memenuhi keinginannya.

Apa yang menimpa Winnie sebenarnya banyak juga terjadi pada remaja-remaja lainnya. Banyak sekali remaja yang melakukan hubungan seks di luar nikah, sehingga berujung pada kehamilan. Hal ini tentu sangat bertentangan dengan nilai-nilai kekristenan. Di mana seks hanya dapat dilakukan oleh pasangan suami istri yang sah. Hubungan seks yang dilakukan di luar pernikahan merupakan sebuah perzinahan. Kolose 3:15 berkata: “Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat, dan juga keserakahan, yang serupa dengan penyembahan berhala.” Jelas terlihat bahwa kekristenan sangat menentang perilaku seks di luar nikah. Oleh karena itu, orangtua sudah sepatutnya mengajar dan membimbing anak-anaknya sehingga mereka memiliki prinsip pribadi yang dapat mereka pakai dan pertahankan dalam hidup mereka.

Menurut Ruma Memet dalam situsnya mengatakan bahwa “Kolose 3:15 tidak boleh diartikan dengan kerangka pemahaman dualism yang memandang seks sebagai sesuatu yang hina dan jahat. Seks adalah ciptaan Allah. Semua yang diciptakan Allah abik dan indah serta bermakna termasuk seks. Karena itu seks atau hasrat seksual bukanlah dosa apalagi sumber segala dosa.” (rumamemet).

Selain pengaruh keluarga dalam hal ini pola asuh orangtua, lingkungan juga memiliki pengaruh besar terhadap perilaku seks di luar nikah. Lingkungan yang tidak baik tentunya akan menciptakan pribadi manusia yang tidak baik pula. Jika seorang remaja hidup atau bergaul di dalam lingkungan yang tidak baik, maka secara otomatis remaja tersebut akan terpengaruh dengan gaya hidup dari lingkungan tersebut. Begitu pula dengan remaja yang dikelilingi oleh teman-temen yang menganut atau memiliki kebiasaan melakukan seks di luar nikah atau seks bebas, maka kemungkinan besar remaja tersebut juga akan ikut terpengaruh. “Hal ini dikarenakan jika seseorang mengalami masa remaja dia akan mengalami berbagai perubahan drastis, termasuk perubahan jasmani, sosial, emosi, dan perilaku. Sehingga mengakibatkan seorang remaja akan rentan terhadap pengaruh yang ditimbulkan oleh lingkungannya.” (Hendra Hendriana).

Perilaku seks di luar nikah sangat berhubungan erat dengan etika seseorang. Etika menurut Bertens adalah “ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan” (2001, hal. 4). Dengan demikian etika berhubungan dengan adat istiadat atau kebiasaan dalam suatu wilayah. Jika suatu wilayah tidak menganggap tabu akan perilaku seks di luar nikah, maka masyarakat di wilayah tersebut akan menyikapi seks sebagai sesuatu yang biasa. Namun jika suatu wilayah menganggap perilaku seks di luar nikah adalah sesuatu yang tabu, maka masyarakat di wilayah tersebut akan memandang rendah atau bahkan mengucilkan orang melakukan seks di luar nikah.

Menurut Verkuyl, “etika bergerak pada lapangan kesusilaan, artinya ia bertalian dengan norma-norma yang seharusnya berlaku di situ dan dengan ketaatan batiniah pada norma-norma itu.” (2004, hal. 2). hal ini menunjukkan bahwa etika memiliki kaitan yang erat dengan norma-norma yang berlaku di suatu wilayah. Etika tidak dapat dipisahkan dengan norma-norma dalam suatu wilayah.

Menurut Joseph Fletcher mengenai seks pranikah (seperti yang ditulis oleh Pdt. Eka Darmaputera) bahwa “pasangan Kristen yang belum menikah boleh saja memutuskan untuk melakukan hubungan seks jika alasannya baik (bentuk loving concern), misalnya supaya si perempuan hamil dan memaksa orang tuanya untuk menikahkan mereka” (sam-el-ladh).

Kekristenan jelas dengan keras menentang perilaku seks di luar nikah dengan alasan apapun. Seks dianugerahkan Allah kepada manusia untuk dapat digunakan dalam suatu wadah pernikahan. Di dalam hukum Taurat tertulis “Jangan bersinah”, hal ini menunjukkan bahwa Allah pun tidak menyetujui hubungan ataupun perilaku seks yang dilakukan di luar pernikahan. Oleh karena itu apa yang dialami oleh sahabat saya merupakan buah dari perbuatannya sendiri yang melakukan hubungan seks di luar nikah.

Pacaran boleh dilakukan oleh siapa saja. Namun pacaran harus dilakukan dengan benar. Bukan hanya mengandalkan kata-kata “aku mencintaimu”, “aku menyayangimu”, atau hanya dilandasi oleh nafsu belaka. Seseorang orang yang hendak menjalin hubungan khusus dengan lawan jenis, hendak memikirkan apa dampak yang akan terjadi. Hal ini disebabkan pacaran memiliki dampak positif dan negative terhadap orang yang mengambil keputusan untuk menjalaninya. Misalnya bagi para remaja, pacaran dapat meningkatkan atau menurunkan prestasi belajar. Pergaulan sosial dengan teman sebaya dapat menjadi meluas atau menyempit. Selanjutnya hubungan dalam pacaran tentu saja tidak akan semulus yang pada awalnya diduga oleh setiap pasangan karena memang adanya perbedaan karakteristik, latar belakang, serta perbedaan keinginan dan kebutuhan. Hal seperti ini yang akan menyebabkan banyak sekali terjadinya masalah dalam sebuah hubungan. Biasanya hal tersebut akan dapat menguras energi dan emosi serta menimbulkan stress hingga dapat menggangu kehidupan sehari-hari, dan masih banyak lagi dampak-dampak lain yang dapat dialami dalam berpacaran.

Hal penting yang perlu diwaspadai dalam berpacaran adalah hubungan seks di luar nikah. Hal ini dikarenakan hubungan seks di luar nikah memiliki dampak yang paling besar jika dibandingkan dengan beberapa dampak yang telah disebutkan di atas. Hubungan seks di luar nikah bukan hanya mengubah kehidupan si pasangan, tetapi juga dapat menghentikan sebagian dari aktivitas si pasangan.

Seksualitas manusia merupakan bagian dari ciptaan Tuhan yang indah. Tidak ada jejak dosa di dalamnya. Namun, sama seperti anugerah Tuhan yang lain bagi manusia, seks juga digunakan oleh setan untuk menjauhkan manusia dari kehendak Tuhan. Seks berfungsi sebagai sarana untuk menyatukan dan memperolah keturunan, dalam hubungan pria dan wanita untuk menjadi ‘satu daging’. Ketika hubungan itu rusak, baik oleh seks di luar nikah, kta telah melanggar hokum ketujuh. Kita telah berbuat dosa, dosa terhadap Allah dan dosa terhadap diri sendiri.

Berpacaran tidak selalu berarti seks. Cinta yang hadir dalam hubungan seks di luar nikah sifatnya adalah semu. Mengandalkan hubungan pada hal yang sifatnya semu tentu saja sangatlah lemah. Sehingga pacaran yang hanya berorientasi pada seks akan mengganggu proses adaptasi karena dalam seks semuanya akan tampak bagus-bagus saja. Kedua pihak akan secara bersama-sama memelihara yang manis-manis saja.

Banyaknya pasangan remaja ataupun anak muda yang dalam menjalin hubungan berpacaran selalu melakukan hubungan seks di luar nikah, bukan hanya disebabkan oleh faktor keluarga tetapi juga oleh faktor lingkungan. Dalam hal ini pergaulan. Orangtua yang terlalu memberikan kebebasan penuh kepada anaknya untuk melakukan apa yang mereka suka, malah akan membawa anak mereka kepada jurang kehancuran. Selain itu, lingkungan yang dipenuhi dengan pola hidup bebas, akan mempermudah seseorang untuk mencapai jurang kehancuran tersebut.

Hubungan seks di luar nikah akan membawa perubahan besar bagi kehidupan manusia yang mengalaminya. Hal ini dikarenakan seks dilakukan hanya berlandaskan kesenangan belaka bukan melambangkan hgubungan antar pribadi yang paling intim dan mengekspresikan penyatuan satu daging berdasarkan komitmen total. Hubungan seks yang dilakukan di luar nikah merupakan tindakan amoral, karena merupakan percabulan. Hal ini merupakan masalah yang serius karena membawa pengaruh yang lebih dalam dari dosa-dosa yang lain. Seperti yang dinyatakan oleh rasul Paulus bahwa: “Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi diluar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri” (I Korintus 6:8).

Hubungan seks yang dilakukan di luar nikah akan menyakiti salah satu pihak. Seks di luar nikah merupakan seks tanpa komitmen. Hubungan semacam ini akan menghancurkan integritas seseorang dengan merendahkannya menjadi satu obyek yang digunakan untuk kepuasan pribadi. Seseorang yang merasa terhina setelah berhubungan seksual bisa saja menjadi trauma dan takur hanya akan dimanfaatkan atau justru menjadi tidak menghargai tubuhnya lagi sehingga melakukan hubungan seksual secara sangat bebas. Seks tidak dapat digunakan sebagai cara untuk bersenang-senang dengan seseorang sementara disaat yang sama digunakan untuk menunjukan cinta sejati dan komitmen. Oleh karena itu, agar tidak menyakiti diri kita sendiri, keinginan dan kegiatan seks haruslah ditempatkan di bawah pengendalian Kristus.

REFERENSI :

Bertens, K. (2001). Etika. Jakarta: Gramedia Pustaka.

Diambil pada tanggal 8 Desember 2004 dari http://www.untuksemua.com/lounge/lima-dari-100-siswa-slta-di-dki-berhubungan-seks-sebelum-menikah-5762/

Diambil pada tanggal 8 Desember 2008 dari sam-el-ladh.com/works/premarital_sex.pdf

Diambil pada tanggal 9 Desember 2008 dari http://rumametmet.com/?tag=etika-seksual-kristen

Diambil pada tanggal 10 Desember 2008 dari http://hendrahendriana.blogspot.com/2008/05/remaja-dan-perilaku-seks-pranikah.html

Verkuyl, J. (2004). Etika Kristen. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia.

DAFTAR PUSTAKA :

Magnis-Suseno, F. (1995). Etika dasar: masalah-masalah pokok filsafat moral. Yogyakarta: Kanisius.

Magnis-Suseno, F. (2006). Etika abad kedua puluh. Yogyakarta: Kanisius.